KULINER


Olahan Keong Sawah Tutut, Mendatangkan Cuan di Bulan Ramadhan


Olahan Keong Sawah Tutut, dengan bumbu kuah pedas manis.

Lamongan Keong sawah atau sering disebut tutut menjadi salah satu olahan yang selalu diburu warga, apalagi saat memasuki bulan ramadhan. Rasanya yang gurih, manis dan pedas menjadi ciri khas tersendiri. Cara makannya pun unik, tutut harus di sruput agar daging didalam cangkanya keluar. Makanan ini sangat cocok untuk dinikmati sebagai menu pelengkap waktu buka puasa.

Tutut merupakan hewan sejenis siput air yang banyak ditemukan di tepi sawah daerah pedesaan. Olahan keong sawah ini bisa mengandung racun yang tidak aman dikonsumsi jika salah mengolahnya. Namun, tutut yang dimasak dengan proses yang benar serta dipadukan dengan berbagai rempah-rempah bisa membuat banyak orang ketagihan.

Niswatul Lailiyah (25), ibu rumah tangga juga berprofesi seorang Guru di Dusun Gondoroso, Desa Keteranggon, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, sudah hampir satu minggu mengolah tutut sebagai peluang usaha sampingan dan menghasilkan cukup cuan di bulan Ramadhan.

 “Saya berbisnis olahan tutut karena banyak teman-teman yang bertanya jika saya memposting hidangan itu di media sosial, mereka tertarik untuk mencoba tetapi di daerahnya tidak ada yang jual,” ujar Niswa saat diwawancarai, Kamis (14/04/2022)

Tumis Keong Sawah Tutut, dengan campuran rempah-rempah yang siap disantap

Melalui pengalaman singkatnya itu, muncul ketertarikan untuk membuka usaha olahan tutut yang biasa ditumis serta dimasak kuah asam pedas manis. Ia memanfaatkan peluang sebab sudah banyak peminat dan keong sawah juga mudah didapatkan.

Awal mula membangun bisnis tersebut, Bu Niswa sapaan akrabnya, langsung mencari sendiri disawah orang tuanya yang ada di Dusun Ngangkrik, Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Menurutnya,  usaha Tutut ini hanya pekerjaan sampingan saja karena kesehariannya mengajar di SD, jadi jika tidak libur mengajar orang tuanya yang mencari tutut untuk dimasak dan dijual lewat media sosial seperti Facebook dan InstaStory WhatsApp.

Ia juga menjelaskan, bahwa proses mengolah tutut terbilang cukup lama dan butuh kesabaran hingga bisa dikonsumsi dengan aman dan nikmat. kendati demikian, ibu rumah tangga itu melakukannya dengan senang hati dan bertepatan bulan ramadhan apa yang dikerjakannya juga di niatkan untuk ibadah.

Sebelum diolah, tutut yang sudah terkumpul direndam terlebih dahulu kurang lebih selama satu malam untuk mengeluarkan kotoran yang berada didalam cangkangnya agar tidak berbau tanah saat dikonsumsi. “Selain itu, air juga harus diganti beberapa kali supaya benar-benar bersih. Selanjutnya, baru dipecahkan bagian ujung cangkang satu persatu agar saat dimasak bumbu-bumbu khas yang sudah diracik bisa mesap dengan sempurna,” tuturnya.

Olahan Keong Sawah Tutut Bu Niswa yang sudah siap dijual.

Untuk menikmati olahan keong sawah ini, pembeli hanya perlu mengeluarkan uang Rp.10 ribu saja satu porsi. Dan hasil cuan yang didapatkannya pun bisa mencapai Rp. 200 ribu setiap hari. “Alhamdulillah dengan memanfaatkan peluang usaha itu, saya berharap nantinya bisa mengispirasi banyak orang untuk memulai bisnis dimulai dari hal-hal kecil,” tutup Niswa.

 

Alfi Nurul Faridah / B71219058 / JR 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CIPTAKAN INOVASI BARU, LPG SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR POMPA AIR SAWAH

PENGEMASAN BERITA INFOGRAFIS JURNALIS VISUAL